Liputan6.com, Riau : Siak, kabupaten kecil dengan sejarah besar. Istana megah dengan bait-bait melayu abjad Jawi menjadi bukti siak masa silam adalah negeri yang kental dengan dinamika konflik tak berkesudahan.
Dalam alunan berjudul Syair Perang Siak yang didendangkan pelantun syair Siak, Winda Harniati, terekam jelas beragam kisah perseteruan. Dari perlawanan Sultan Siak, Raja Ismail melawan Belanda di penghujung abad 18, peristiwa perebutan tahta kesultanan Johor sampai cerita pendirian Siak Sri Inderapura. Hal ini terlihat dari, detail-detail istana, peninggalannya hingga kapal pengangkut barang di Sungai Siak. Setelah proklamasi, Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan Republik Indonesia.
Kerajaan Siak berdiri sejak 1723 yang dipimpin pertama kali oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat yang bergelar Sultan Kecik. Beliau berasal dari Sultan Johor yang kebetulan kerajaan pada waktu itu bukan berasal dari Kota Siak ini tapi berada di Hilir Siak yang namanya Kuantan Besar. Beliau juga semasa hidupnya pernah tinggal di Istana Pagaruyung, Batu Sangkar.
"Disana mereka dibesarkan sejak kecil setelah itulah mereka datang ke Siak dan memerintah ke negara Siak ini msejak tahun 1723 -1746. Dari waktu itulah Siak menunjukkan kejayaan sebagai sebuah kerajaan besar yang ada di Indonesia" kata Datuk Setia Amanah, Syamsuar yang ditayangkan Liputan 6 SCTV, Minggu (11/8/2013).
Islam datang sejalan dengan perubahan wajah semenanjung Malaka sebagai pusat perdagangan. Bahasa Melayu menjadi media yang lazim digunakan pedagang-pedagang dari Gujarat, Arab dan Persia dalam menyebarkan agama Islam ke masyarakat. Selain lewat tabiat jual-beli, syiar Islam memang lazim memanfaatkan media seni, termasuk di Siak yang sebelumnya sarat pengaruh Hindu pada masa kerajaan Gasib
Maka lewat syair dan tari, ajaran Islam disebarkan meski yang paling dikenang hingga kini adalah Syair Perang Siak yang didendangkan Winda Harniati.
Malam di Siak adalah malam senandung para ibu. Malam yang melelapkan bayi dalam ayunan. Tenggelam bersama Dodoy atau Tembang Melayu yang berkisah tentang sepenggal kehidupan nabi besar Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. Bersenandung menidurkan anak pada malam hari memang telah menjadi tradisi di Siak. Bahkanm begitu mendarah dagingnya, kepiawaian bersenandung ini sampai dilombakan.
Para ibu di Siak percaya, tak ada cara yang lebih tepat untuk mengenalkan ajaran Islam kepada anak selain syair nasihat lewat senandung menjelang tidur.
Untuk selengkapnya Anda bisa menyaksikan tayangan Potret Senandung di Negeri Siak melalui video di bawah ini. (Adi)




